Jumat, 15 Oktober 2010

Onta Itu Mengadu Kepada Rasulullah

Suatu hari Rasulullah keluar rumah untuk satu tujuan dengan menunggangi untanya. Abdullah bin Jafar ikut membonceng di belakangnya. Ketika mereka sampai di pagar salah seorang kalangan Anshar, tiba-tiba terdengar lenguhan seekor unta.

Unta itu menjulurkan lehernya ke arah Rasulullah saw. Ia merintih dan air matanya jatuh berderai. Rasulullah saw mendatanginya Unta tersebut. Beliau mengusap belakang telinga unta itu. Dan unta itu pun tenang. Diam.


Kemudian dengan wajah penuh kemarahan, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah pemilik unta ini ?”, “Siapakah pemilik unta ini ?”
 
Pemiliknya pun bergegas datang. Ternyata, ia seorang pemuda Anshar. “Itu adalah milikku, ya Rasulullah !”, katanya.

Rasulullah saw. berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah karena unta yang Allah peruntukkan kepadamu ini?” Ketahuilah, ia telah mengadukan nasibnya kepadaku, bahwa engkau membuatnya kelaparan dan kelelahan.

Subhanallah! Unta itu ternyata mengadu kepada Rasulullah saw. Bahwa tuannya tidak memberinya makan yang cukup sementara tenaganya diperas habis dengan pekerjaan yang sangat berat. Kisah ini bersumber dari hadits nomor 2186 yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Kitab Jihad.

Bagaimana jika yang mengadu adalah seorang pekerja yang gajinya tidak dibayar sehingga tidak bisa membeli makanan untuk keluarganya, sementara tenaganya sudah habis dipakai oleh orang yang mempekerjakannya? Pasti Rasulullah saw lebih murka lagi.

Pada lain waktu, Abdullah bin Umar menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, Seorang wanita disiksa karena menahan seekor kucing sehingga membuatnya mati kelaparan, wanita itupun masuk neraka. Kemudian Allah berfirman Allah Maha Tahu kepadanya, kamu tidak memberinya makan, tidak juga memberinya minum saat ia kamu pelihara; juga engkau tidak membiarkannya pergi agar ia dapat mencari makanan sendiri dari bumi ini. (HR. Bukhari, kitab Masafah, hadits nomor 2192).

Yang ini cerita Amir Ar-Raam. Ia dan beberapa sahabat sedang bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba seorang lelaki mendatangi kami, kata Amir Ar-Raam. Lelaki itu dengan kain di atas kepadanya dan di tangannya terdapat sesuatu yang ia genggam.

Lelaki itu berkata, Ya Rasulullah, saya segera mendatangimu saat melihatmu. Ketika berjalan di bawah pepohonan yang rimbun, saya mendengar kicauan anak burung, saya segera mengambilnya dan meletakkannya di dalam pakaianku. Tiba-tiba induknya datang dan segera terbang berputar di atas kepalaku. Saya lalu menyingkap kain yang menutupi anak-anak burung itu, induknya segera mendatangi anak-anaknya di dalam pakaianku, sehingga mereka sekarang ada bersamaku.

Rasulullah saw. berkata kepada lekaki itu, Letakkan mereka.
 
Kemudian anak-anak burung itu diletakan. Namun, induknya enggan meninggalkan anak-anaknya dan tetap menemani mereka.

Apakah kalian heran menyaksikan kasih sayang induk burung itu terhadap anak-anaknya? tanya Rasulullah saw. kepada para sahabat yang ada waktu itu.

Benar, ya Rasulullah, jawab para sahabat.

Ketahuilah, kata Rasulullah saw. Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, sesungguhnya Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba- Nya melebihi induk burung itu kepada anak-anaknya.

Kembalikanlah burung-burung itu ke tempat di mana engkau menemukannya, bersama dengan induknya,” perintah Rasulullah. Lelaki yang menemukan burung itupun segera mengembalikan burung-burung itu ke tempat semula.

Begitulah Akhlak terhadap hewan yang diajarkan Rasulullah saw. Bahkan, membunuh hewan tanpa alasan yang hak, Rasulullah menggolongkan suatu kezhaliman. Kabar ini datang dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah saw. bersabda, Barangsiapa yang membunuh seekor burung tanpa hak, niscaya Allah akan menanyakannya pada hari Kiamat.

Reff. Muhammad Bugi-Dakwatuna.com







Tidak ada komentar:

Posting Komentar